RUKUN-RUKUN HADITS

Dalam kajian ilmu  Hadits dikenal unsur-unsur Hadits. Unsur-unsur Hadits tersebut adalah sesuatu yang membentuk sebuah hadits. Sehingga dengan adanya unsur-unsur hadits tersebut dapat diketahui tanda-tanda sebuah hadits, yang dengan ciri-ciri atau tanda tersebut dapat diketahui karakteriktik Hadits. Unsur -unsur Hadits tersebut menjadi penanda untuk dapat mengidentfikasi sebuah Hadits.

Secara periwayatan Hadits ada tiga unsuratau rukun yang membentuk sebuah Hadits. Ketiga unsur atau rukun tersebut adalah :

1.      Rawi, yakni subjek periwayatan, perawi atau yang meriwayatkan hadits. Yang dimaksud dengan rawi adalah orang yang menerima, memelihara dan menyampaikan Hadits dengan menyertakan sandaran peiwayatannya. Jadi ada tiga aktfitas yang dilakukan oleh rawi Hadits, yakni نقل, وضبط وتحرير (memidahkan, memelihara dan menyampaikan). Sebagaiamana dalam ilmu hadits Riwayat bahwa Hadits yang diwurudkan oleh Nabi saw lalu diterima oleh para sahabat, kemudian dipelihara dalam hafalan, amalan dam kadang kemudian disampaikan kepada para muridnya dari kalangan tabi’in,. begitu juga hal itu berlangsung di kalangan tabi’in, tabi’uttabi;in dan seterusnya.

Hadits tersebut ditulis pada diwan-diwan hadits yang berbentuk kitab musnad, sunan, shahih, mustadrak, jawami’, dan zawaid, yang disusun oleh para rawi selama tiga abad. Maka penulis kitab Hadits tersebut merupakan rawi terakhir dari kitab-kitab Hadits yang dihimpunnya.

2.      Sanad atau thariq, ialah jalan yang menghubungkan matan Hadits kepada Nabi Muhammad saw. Sanad adalah sandaran Hadits, yakni referensi atau sumber yang memberitakan hadits, yakni rangkaian pararawi keseluruhan yang meriwayatkan Hadits. Pada saat Hadits telah terkoleksi dalam kitab-kitab Hadits, maka sandaran sebuah hadits adalah para mudawwinnya, misalnya Hadits yang terkoleksi dalam kitab Shahih Bukhari, maka sanad atau sandaran bagi Bukhari adalah gurunya atau syaiknya, begitu pula sanad bagi gurunya Bukhari adalah gurunya di atasnya. Begitu selanjutnya sampai pada sahabat Nabi saw sebagai rawi terakhir dan merupakan rawi pertama. Denga demikian sanad adalah rangkaian para perawi yang menjadi sumberpemberitaan Hadits.

3.      Matan adalah materi berita, yakni lafazh  atau teks Hadits, yang berupa ucapan, perbuatan maupun takrir ataupun karakreristik yang disandarkan kepada Nabi saw. Keberadaan matan ada di ujung sanad sebuah hadits. [1]

Perhatikan contoh Hadits berikut ini :

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ "

Hadits di atas diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya, no,8, bab qaulinnabiyyi.kitab al-iman.

Kalau kita uraikan unsur-unsur Hadits dari Hadits di atas adalah sebagai berikut :

1.      Rawi-rawi Hadits adalah :yakni Muhadditsin yang pertama menerima Hadits dari Nabi saw, yakni sahabat ibnu Umar, lalu Ibnu Umar ajarkan kepada  ikrimah bin Khalid, ikrimah kemudian ajarkan lagi kepada Hanzhalah bin Sufyan, lalu Ubaid bin Musa dan Bukhari (w 256 H). jadi dalam Hal ini Ibnu Umar sebagai rawi pertama dan bukhari sebagai rawi terakhir yang menuliskannnya dalam jami shahih Bukhari.

2.      Sanad hadits :sandaran Hadits bagi kita yang pertama  adalah  Bukhari,sebagai yang menuliskan hadits dalam kitab Jami’ Shahihnya, kemudian’Ubaid bin Musa, Hanzhalah bin Abi Sufyan,lalu  Ikrimah bin Khalid, sampai kepada  Ibnu Umar sebagai sanad terakhir.

3.      Sedangkan matan haditsnya adalah isi berita apa yang diseburkan oleh Nabi saw  yakni :



بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ "





[1] Endang Soetari, Sejarah hadits dan Biografi Muhadditsin, Bandung, Gunung Djati Press, 2011,hal. 23-24.

Komentar